About the Post

Author Information

I do honestly believe that people enter our lives for a reason. That everyone who we meet, who forms an impression has something to teach us. Everything that happens to us is an experience, and because of that it can never be bad. an experience can only be good because it all serves to shape the person that we are, the person that we become. -= the love whisperer =-

[Seoul] The Day Before Day One

***
Sebelum saya memulai perjalanan di hari pertama. Mungkin ada baiknya saya bercerita dulu sedikit mengenai perjalanan saya menuju Seoul.

Perjalanan saya memang tidak menggunakan pesawat kelas kakap. Saya ingin perjalanan saya kali ini bisa benar-benar menjadi satu perjalanan yang benar-benar asing. Dalam artian tidak ingin dimanja, dan mencoba bagaimana rasanya berada di kota yang sebagian besar warganya tidak bisa berbahasa inggris. Not am not in the position to say that Korean doesnt want to speak English. I will write more about this in the next blog.

Here it is

Perjalanan dimulai dengan cuaca yang sangat dingin. Bahkan salah satu owner Guest House yang saya tempati bilang kalau semalam adalah hari dengan cuaca terdingin Korea, -11 derajat celcius. Setelah sampai di Seoul, saya mencoba untuk tidak mencari jalan singkat dengan menggunakan kereta api yang harganya mahal, 15000 won.

Honestly, cuaca di sini luar biasa dinginnya. Awalnya saya hanya berpikir saya bisa bertahan. Namun, apa daya, rasanya seperti masuk ke dalam kulkas. Tangan tanpa sarung tangan = mati rasa. Telinga tanpa penutup telinga = it’s cute. ha-ha-ha

Sesampainya di bandara udara Icheon Korea, saya benar-benar merasakan aura keasingan. Bandara yang dicap sebagai bandara terbaik dunia ini ternyata sangat panjang peralanannya menuju tempat imigrasi. Saya bertemu dengan Jessica, salah satu warga Canada yang juga pertama kali datang ke sini. We talk a few, asking the obvious question like “where are you come from ?” and “What are you doing?”. It is my effort to find some new friends. But the plan did not work well. [No worries, besok saya akan memberi tahu bagaimana saya bertemu dengan 2 orang Malaysia, 4 friends from korea and one from Tokyo.]

I meet no friend. And, I am so lost.

Yap, saya tersesat di Seoul. Dengan udara super dingin yang membuat tangan mati rasa. I feel life no hope. Saya sempat mencoba untuk mencari informasi lewat foto yang print screen dengan iPad. Seperti katak dan ayam. Bahasa memang diciptakan untuk menyatukan. Tapi apa daya, dari 3 toko 7Eleven yang saya kunjungi, tidak ada satu karyawan pun yang bisa berbahasa inggris. Akhirnya, saya seperti bintang film drama Korea yang tersesat kedinginan di jalan dengan 2 koper di kedua tangan. Well, akhirnya dengan bahasa katak, saya berhasil berkomunikasi dengan ayam lewat bahasa isyarat tangan.

Akhirnya, pada pukul 12 malam, saya menemukan surga yang sesungguhnya, BeeHive Guest House. Walaupun belum makan seharian, fokus utama malam itu adalah RANJANG dan TIDUR.

***

Perjalanan ini memang sangat berkesan. Setidaknya sekarang saya tahu, bagaimana caranya bertahan hidup untuk pertama kalinya diantara salju, negara asing dan ayam.

It’s my first time and it’s just about the beginning.

Tags:

One Comment on “[Seoul] The Day Before Day One”

  1. erni musica February 9, 2012 at 9:23 pm #

    Kereen ko.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: