About the Post

Author Information

I do honestly believe that people enter our lives for a reason. That everyone who we meet, who forms an impression has something to teach us. Everything that happens to us is an experience, and because of that it can never be bad. an experience can only be good because it all serves to shape the person that we are, the person that we become. -= the love whisperer =-

Wedding Culture

SEBENARNYA aneh saja kalau saya disuruh menulis soal perkawinan. Kenapa tidak? Masalahnya saya sendiri juga takut, hmmm, seandainya suatu hari saya menikah dan akhirnya saya juga menjadi bagian dari budaya yang lucu ini.

Sudah sekian lama saya mengurung niat untuk menulis tentang evolusi perkawinan suku Tionghua di Medan. Not to blame someone. But i think, it’s fun to write about this. Memang, kita tidak bisa merubah apapun. Yang bisa kita lakukan adalah menerima budaya perkawinan ala medan yang unik dan aduhai, dan kemudian try to do something better.

Berikut beberapa budaya unik dan lucu untuk disimak:

It’s a family concert

Dulu sebelum orang-orang mengenal Event Organizer, kegiatan acara direncanakan dan dieksekusi oleh anggota keluarga sendiri, baik adik kandung, sepupu dan orang tua. It’s good to have a warm family concert. Coba kapan lagi bisa nyanyi di atas panggung kalau bukan di acara perkawinan anak, cucu, keponakan, atau saudara sendiri.

Namun, di zaman modern seperti sekarang, Event Organizer juga semakin banyak, belum lagi profesi wedding planner yang semakin hari semakin berkembang. Do you know what is the bad effect to hire an event organizer or wedding planner? In Medan, kita membuat banyak senior-senior tersinggung. They just don’t really adapt with a better wedding preparation. Mereka merasa tersinggung karena tidak disuruh naik ke atas panggung untuk bernyanyi. Mereka merasa kesal dan kecewa, kenapa anggota keluarga lebih mengutamakan acara-acara yang diatur sedemikian rupa oleh EO/ wedding planner daripada menggunakan sistem lama. Culture is always about change. Contohnya, kinomo yang menjadi pakaian adat jepang. Dan apakah orang-orang di jepang setiap hari mengenakan kinomo ? no, there are not. Oleh sebab itu, saya sedikit lucu ketika salah satu teman baik saya menikah, dia memberitahu saya, “Kata papa saya, saya harus suruh si A (teman papa) bernyanyi, kalau tidak, dia bakal tersinggung. Dan bukan hanya itu, kita juga harus duluan memberi penjelasan kepada para senior yang biasanya menunggu waiting list untuk disuruh naik ke atas panggung.”

Invitation is “WELL” designed

Semenjak ada wedding plannner/EO, kartu invitasi pun dipresentasikan dengan desain yang bagus. Sesuai dengan budget. Sesuai dengan konsep. Invitasi boleh dibuat cakep. Acara dibuat heboh. Namun tuntutan halus dibuat didalam invitasi. Disadari atau tidak disadari, orang yang menikah tidak lagi menginginkan papan bunga atau hadiah seperti zaman-zaman dulu, seperti kulkas, dispenser, ac dan yang paling banyak adalah kipas angin. Sekarang mereka hanya menerima amplop yang tertera sangat jelas di dalam invitasi. Kalau dulu simbol amplop tertera di belakang kartu invitasi, sekarang simbol amplop bertambah menjadi 2, satu tanda di belakang dan satu lagi bergeser ke dalam invitasi bagian tengah. SO they insist people to give them an envelope. Jadi, jangan coba-coba kasih kipas angin lagi ya. Kalau mau kasih jangan tanggung-tanggung, langsung kasih iPad.

Envelope is fun, isn’t it?

Aneh saja rasanya kalau melihat sepasang pengantin berada diatas panggung. Sah-sah saja kalau memotong kue pengantin, memberi ucapan terima kasih kepada tamu yang hadir atau orang tua yang mereka sayang kasihi. Singing is good, sangat menghibur dan tidak akan ada orang yang akan protes, karena ini acaranya mereka. But it looks funny ketika sepasang pengantin bernyanyi di atas panggung dengan pembagian tugas yang sudah direncanakan, yakni, mempelai wanita bernyanyi dan mempelai pria menerima amplop dari tamu-tamu atau sebaliknya. Bukan hanya itu saja, bahkan tidak sedikit yang sudah menyediakan kantong plastik di dalam saku, tujuannya jelas, untuk mengisi angpao. Sekilas tidak lagi seperti acara menyanyi, tapi lebih kepada charity.

I wish i can cheer you up with this writing. Apa yang saya tulis adalah kenyataan yang terjadi di Medan. Saya memang  bukan orang yang bekerja di bidang wedding planner. Tetapi tulisan diatas adalah murni dari apa yang saya lihat. Dan apabila saya boleh sedikit menambahkan, saya memprediksikan bahwa wedding planner akan semakin diminati di Medan. Generasi sekarang akan menggelar sebuah resepsi pernikahan dengan konsep yang jelas, mereka sudah mulai mengadopsi standing party ala gaya barat atau memiliki lokasi acara yang terlihat lebih berbeda, seperti menikah di tengah-tengah sawah, atau di pekarangan rumah (telenovela Alex Gustavo dan Experanza). Masalahnya hanya satu, will the senior in Medan accept this kind of wedding party?

Please write a comment. At least we can share something here.

Regards,

Darwis Taniwan

NB:

Kasih tahu saya ya kalau ada yang salah. Tulisan ini hanya berdasarkan apa yang saya lihat. Dan tentunya pengalaman pribadi dengan acara-acara teman baik saya yang menikah. Tulisan ini tidak ada unsur sengaja atau menargetkan seseorang.  Cheers !!!

12 Comments on “Wedding Culture”

  1. Tenggario October 22, 2010 at 9:06 am #

    Pak Darwis, Kimono untuk pakaian khas adat Jepang.
    Thanks, it’s a nice writing!

  2. ven October 22, 2010 at 1:54 pm #

    Bro,yg lu blg emang btul tuh. tapi itu baru sebagian kecil. masih banyak acara alias ritual yg belum lu sebutkan. pokoknya, bisa bikin lu pusink n senyum2 sendiri, plus pantangan2nya. that’s only in chinese culture. So, berbanggalah kita mempunyai kebudayaan yg sunggguh2 unik. acara wedding lu ntar mau di padang rumput kek, di lapangan terbang kek, ato dimanapun, lu pasti ga bakal bisa lari dari ritual weeding yg satu ini. w sdh rasakan. u next. LOL. cia you

    • darwistaniwan October 22, 2010 at 2:45 pm #

      apa nech…contohnya dunk… Biar saya tambahin.
      masih ada 1 lagi yg belum saya tulis, wakakkakaka

  3. desy October 24, 2010 at 9:59 am #

    Kesan pertama setelah membaca tulisan u adalah ketawa, that’s reality bro n I had ever feel that. Menurut sy it’s fun n merupakan kekayaan budaya yg blm dimiliki oleh daerah yg lain spt Jakarta. Mgkn ketika kamu msh berada di Mdn itu merup hal biasa ttp ketika sy uda jau dr keluarga (Jakarta) sy merasa saat menikah hari itu begitu memberikan kenangan yg terindah dlm hidup kita. Sekian komen dr saya.Makasih!

    • darwistaniwan October 24, 2010 at 11:42 am #

      somehow, yes it is. It’s fun to attend this event. In medan, this is the fact. hahahhaha it’s good that u laugh, why dont u try it here? hahha nice nice. thx for reply.

  4. silvia October 24, 2010 at 11:23 am #

    Memang bnyk tradisi yg dijalankan etnis tionghoa dlm suatu pernikahan, blm lg ada bbrp pembagian tradisi yg brdsrkn suku hokkien, khek, kunghu, dll..
    Zaman skrg mmg bnyk yg memerlukan EO, mgkn dgn adany EO suatu acara pernikahan akan dischedule dgn baik dan adany bbrp unsur modern yg ditambahkn, cthny adany shooting sepasang pengantin yg bercerita dr awal pertemuan mrk sampai menuju pernikahan..
    Tp bnyk jg etnis tionghoa yg memilih pernikahan sederhana dgn nikah tamasya, walaupun demikian tradisi pernikahan ttp dijalankan, yg tdk ada hanya kesempatan bernyanyi di atas panggung, memegang kantong plastik dan mengisi angpao.
    8agaimanapun beragam ny tradisi yg dijalankan, semua bertuju pd pengharapan yg cerah utk kehidupan baru yg akan dijalankan ^^

    • darwistaniwan October 24, 2010 at 11:40 am #

      nice input…. Tulis dunk kalau sis ada input yang bisa memperkaya artikel ini hahhaha

  5. tiffany angeline October 26, 2010 at 6:50 pm #

    Hey, Darwis. How’s life?
    Accidentally read your article above and i guess you misspell “kinomo” 🙂
    By reading it, practically makes me laugh..
    Very entertaining as well but i think chinese, especially medanese we’re talking here, were mostly bounded by tradition. Over the years, the culture and tradition has came to a level which could not be replaced by anything called modernization, such as wedding planner, event organizer or other similar urban lifestyle concept that we think it suits us way more than a bunch of ridiculous family tradition that we must obey. To be honest, i feel a bit disagree sometimes when i see the whole wrong point about the wedding. It supposed to be a massive celebration of happiness, the united of two people and two family (well off course, back again, eastern culture, your mom and dad also get married), about giving your blessing by attending the party, enjoying the feast, meeting people and live music performance (not by senior, family members or relatives). Why? because if it’s my party, i don’t think i would be willing to listen to bad singing. Trust me, it’s going to ruin everything. We know they were always looking forward to show off on stage without really knowing their capability. (i hate that karaoke-ing part). I can’t bear it, hurts my ears.
    I mean, it’s definitely your once in a lifetime wedding reception, i want it to be perfect, so do you. Moreover, even if wedding organizer were involved, i think the adults will not completely accepting their brand new concept. Basicly, they will combine both, tradition and modern style). So, that kind of silly traditon will always stick on you like glue. You can’t really abandon it easily.
    And emm about the envelope thing? It’s getting clear huh? People think money works better than flowers or stuff like electronics and kitchen set. Can’t really blame them actually, it depends.
    Oh well, it’s getting late..
    Nice writing, D!

  6. lin shu li November 13, 2010 at 1:49 pm #

    kinomo?!
    yang benar kimono kan?
    ^ 0 ^
    karya tulis kamu bagus koq.
    Cia yo!
    (^0^)/

  7. PDL November 29, 2010 at 5:17 am #

    There’s one more thing you missed out. In Medan, wedding party is held like two times. One party for the bride’s family and the other for the groom’s family.
    Such a waste money

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: