About the Post

Author Information

I do honestly believe that people enter our lives for a reason. That everyone who we meet, who forms an impression has something to teach us. Everything that happens to us is an experience, and because of that it can never be bad. an experience can only be good because it all serves to shape the person that we are, the person that we become. -= the love whisperer =-

Rainbow Needs the Rain

Hujan turun disaat tidak ada seorangpun memanggilnya. Ia turun sesuai dengan kondisi dan situasi, kadang deras, kadang pelan dan kadang hanya sesaat. Sebenarnya aku heran, ketika berpikir dan bertanya sendiri kenapa hujan harus turun. Secara ilmiah, memang sudah ada rumusnya. Namun tetap saja aku meragukannya. Pikirku, “Buat apa berpikir sesuatu yang tidak pasti kejelasannya.” Aneh tapi menarik.

Aku sebenarnya membahas hujan, tidak lain hanya sekedar membuat kalimat pembuka. Namun tidak bisa dipungkiri, bahwasannya cuaca mendung menjadi favoritku. Melihat bagaimana awan berusaha menahan terik matahari dan sebaliknya juga, bagaimana matahari berusaha memberi terang buat para penghuni bumi, membuatku semakin tergila-gila dengan kondisi seperti itu.

Belakangan ini, aku bermimpi untuk membangun sebuah rumah di satu kawasan lahan yang dipenuhi dengan warna hijau. Aku juga pernah bermimpi seandainya aku diberi kesempatan untuk membangun rumah idaman disana, cukup hanya dengan menyisakan waktuku 2 jam sehari untuk menikmati suasana seperti ini. Duduk di teras rumah, ditemani expresso dan roti panggang ~ dengan srikaya sebagai pelapisnya.

Hujan datang ketika manusia ingin menikmati sebuah kesegaran yang baru. Matahari hadir disaat manusia membutuhkan vitamin D untuk memacu tubuh memproduksi vitamin D. Keduanya memberi manfaat yang baik.

Pengandaianku membawaku semakin jauh di dalam penentuan langkah selanjutnya untuk sampai kepadanya akhirnya. Aku dibawa terbang begitu jauh kesana, tanpa harus melangkah sedikitpun dari depan komputerku. Aku seakan-akan merasakan aura tersebut mendatangiku, kuat tanpa irama, halus tanpa notasi.

Akhirnya aku sampai disana, dan mulai merasakan mendung tidaklah menjadi favoritku lagi. Cukup 5 menit sebelum rangkaian note yang kutulis ini berakhir, aku didatangi ilham yang berkata bahwa aku membutuhkan “hujan” sebagai pelita harapan didalam memproses pengandaianku menjadi imaginasi dan kekuatan untuk segera merealisasikan sesuatu yang belum tampak jelas, gelap bahkan samar.

Seperti halnya ketika aku dihadapkan dengan tembok masalah yang mendatangkan pukulan maut bertubi-tubi di sekitar wajahku dan beberapa kali telak, mengenai hidung mancungku. Aku butuh sesaat untuk diam ditempat, tarik nafas, tahan 5 detik dan menghembuskannya pelan. Sama dengan hujan yang berada ditengah mendung dan terik matahari. Kalau tidak percaya, lihat dan cermati baik-baik, kerja sama antara matahari setelah hujan adalah karya terindah yang pernah diciptakan Dia diatas. Karena hanya dalam kerjasama seperti ini pelangi hadir untuk memberi senyuman.

Pengandaianku kembali membawaku jauh melewati batasan kemampuanku untuk bermimpi. Kembali ke rumah idamanku. Rumah tersebut akan memotivasi diriku untuk terus belajar, melangkah dengan bijaksana dan tegar. Disanalah aku akan duduk tenang, menunggu mendung, hujan, dengan penuh sabar menyambut pelangi.
Dan akhirnya, tulisanku berakhir dengan quote ini:
“God didn’t promise days without pain, laughter without sorrow, sun without rain, but He did promise strength for the day, comfort for the tears, and light for the way.”

Regards,
Darwis Taniwan

NB: Feel free to give comment or comments 😉

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: