About the Post

Author Information

I do honestly believe that people enter our lives for a reason. That everyone who we meet, who forms an impression has something to teach us. Everything that happens to us is an experience, and because of that it can never be bad. an experience can only be good because it all serves to shape the person that we are, the person that we become. -= the love whisperer =-

The reason why i love “kecoa”

Heran juga…. Ternyata kata “kecoa” menyita tidak sedikit perhatian. Aku berasumsi bahwa kamu yang sedang baca tulisanku, pasti sudah tahu apa yang sedang aku bicarakan, seorang anak manusia yang sedang banyak terinspirasi dari seekor kecoa mungil, manis dan hitam.

Kecoa kerap membuat fenomena-fenomena yang membuat perut sakit, karena candaan teman sekantor, ada yang mengambil kecoa untuk menakut-nakuti. Tidak sedikit kecoa mati dibawah sandal swallow karena kesalahan manusia sendiri. PLAKkkk!!!!!! Sunyi sejenak dan kemudian raksasa itu memanggil dengan nada tenor, “Anik !!!!! tolong kau bersihkan binatang kotor ini”

Memang benar pada saat kamu membangun rumah, secara langsung itu menjadi hak milik kamu. Tapi jangan salah, peraturan dan undang-undang tidak berlaku untuk seekor kecoa ataupun binatang lain.
Kalau saya seekor kecoa asli yang bisa berbicara bahasa Indonesia, maka, aku akan pergi ke pengadilan Tinggi Medan, menuntut setiap manusia yang pernah mentiko temanku dengan sandal maut, keras dan mematikan.

Aku pengen tanya, sejak kapan hewan mungil ini dicap sebagai hewan kotor, jijik dan menyebalkan? Aku akan mengangguk setuju, kalau kamu tahu persis tahu bagaimana seekor kecoa bertahan hidup. Aku bermimpi untuk berbagi dengan mereka. Sayang, mimpi ini tidak akan pernah terealisasikan seperti mimpi John F. Kennedy, ketika mengirim Neil Amstrong ke Bulan.

Kecoa kotor hanya persepsi manusia. Karena mereka mengganggu zona nyaman kamu. Kemudian kamu jijik dan merasa geli ketika dengan tiba-tiba, seekor kecoa terbang yang hinggap di salah satu permukaan tubuhmu. Kamu berteriak keras, memaki-maki, dan akhirnya mengutuk dia, “MATI KAU !!!!”

Pernah nggak berpikir bahwa seandainya hewan kecil berwarna hitam itu tidak lagi berwarna hitam, mungkin kamu akan lumayan bersahabat atau tidak mengutuk hewan tak bersalah tersebut, sebut saja, capung atau kupu-kupu. Kamu tidak akan membunuh kupu-kupu tersebut karena dia cantik, sayapnya berwarna, terkesan ceria dan elok.

Tuhan menciptakan manusia dengan pikiran yang dipenuhi fantasi dan imajinasi, kemudian akal sehat untuk menyaring yang baik dan tidak baik. Aku juga seorang yang takut dengan kecoa. Dan terutama pada saat dikejutkan disaat malam hari, ketika membuka pintu kulkas, dan tiba-tiba ada seekor kecoa yang berlari linglung mengenai sedikit jempol kakiku.

Tidak ada maksud untuk mengubah paradigma kamu setelah membaca note yang aku tulis. Kecoa adalah hewan inspiratif buatku, disamping juga menjadi bahan pembelajaranku dalam melihat dunia asli.
Kenapa aku mengambil kecoa karena binatang yang paling aku takuti adalah kecoa. Dan katanya, phobia hanya bisa disembuhkan dengaan mendekatkan diri lebih dekat dengan apa yang kamu takuti. Sama seperti cara menyembuhkan flu yang menyerang kamu. Kamu tidak akan sembuh sebelum kamu tahu persis, ternyata flu yang sering menyerang saluran pernafasan kamu, disebabkan oleh kurangnya rutinitas dalam menukar sarung bantal yang baru.

Ilham yang banyak membantuku. Mengangkat keprihatinan akan diri sendiri. Sama seperti ketika aku memposisikan diriku menjadi seekor kecoa yang banyak dibenci. Dunia asli tidak jauh berbeda dengan satwa liar di Africa. Singa memangsa rusa untuk bertahan hidup dan menjaga kelangsungan hidup anak-anak mereka. Sama dengan kehidupan manusia yang tidak mudah untuk dimengerti, liar, dan kejam. Butuh waktu yang tidak singkat untuk bertahan dengan cercaan, fitnah dan angin topan yang terus menerus menerpa, menunggu fondasi pertahananku rapuh yang kemudian ikut terbang bersamaan dengan debu liar.

Kini, aku merasa bahwa, langkah selanjutnya adalah bagaimana bersahabat dengan hewan mungil yang bernama kecoa. Warna hitam di kecoa adalah untuk meyulitkan pemangsa di malam hari. Dan aku tidak mau menjadi hitam di dunia ini karena kurang perduli dengan diri sendiri. Ikut bersama arus, jauh dari jalur benar. Aku berpikir seandainya, suatu hari aku menjadi pemangsa, aku akan berusaha yang terbaik untuk menjinakkan apa saja, termasuk menjinakkan diriku sendiri.

Regards,
Darwis Taniwan

Bookmark and Share

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: