About the Post

Author Information

I do honestly believe that people enter our lives for a reason. That everyone who we meet, who forms an impression has something to teach us. Everything that happens to us is an experience, and because of that it can never be bad. an experience can only be good because it all serves to shape the person that we are, the person that we become. -= the love whisperer =-

Memberi

Hari- hari yang sibuk belakangan ini ternyata membuahkan hasil. Setidaknya ada perubahan yang terjadi, walaupun hanya sedikit, misalnya setidaknya aku menambah rutinitas harianku dalam berolahraga, atau mulai belajar membaca novel, atau ngopi di tempat yang menurut mereka-mereka gengsinya tinggi, mana lagi kalau bukan Starbuck.

Tetap saja, kepenatan tetap menjadi bagian yang mungkin tidak akan pernah lari didalam kehidupanku. Pagi hari ini, tak perlu lagi alarm handphone-ku yang belakangan ini menjadi teman terbaikku, membangunkanku. Hari ini, aku bangun dengan ketiba-tibaan, terkejut, dan suasana hati yang sangat tidak sedap. Aku diserang sebuah mimpi yang menggambarkan kesuraman, ketakutan dan ancaman hidup yang begitu tinggi. Ternyata, mimpipun mulai berisyarat memusuhiku. ;(

“Tidak ada waktu untuk mengasihani diri sendiri” pikirku, karena sadar bahwa begitu banyak orang di luar sana mengalami nasib yang lebih buruk. Mulai dari mereka yang harus berlindung dibawah pepohonan, hanya karena hujan, ada yang basah kuyub, tetap saja melanjutkan perjalanan. Aku sedih, terharu dan sampai kadang-kadang tidak berani membayangkan bagaimana anak jalanan itu menghabiskan waktu sehari hari~ tanpa mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya, kasih sayang orang tua, pendidikan yang memadai, persahabatan dan keperdulian yang diperlukan setiap orang. Mereka makan berkecukupan tanpa gizi, bekerja di bawah panasnya matahari dan derasnya hujan yang mengkuyubkan sekujur badan mereka. Tetap saja, mereka masih bekerja.

Oleh sebab itu jangan pernah menyalahkan mereka, apalagi mencibir atau memaki mereka dengan kata-kata kasar. Ini bukanlah kesalahan mereka, juga bukan kesalahan orang tua mereka yang lalai dalam mendidik. Bayangkan saja anak-anak jalanan tersebut, apa yang harus mereka lakukan kelak, tanpa pendidikan yang cukup, bagaimana mendidik generasi mereka seterusnya. Aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan apabila berada di posisi itu, melewati setiap hari dengan bernyanyi yang hanya bermodalkan seragam kumuh, sebatang kayu yang diisi dengan lonceng-lonceng yang sudah berkarat, meminta belas kasihan para pengemudi dan harus siap menerima tamparan, pukulan, sepakan tak berotak apabila tidak mendapat uang kasihan dari para pengemudi.

Pernah sekal aku bertanya kepada salah satu anak jalanan tersebut. Aku tidak tanya namanya. Karena lampu merah disekitaran wilayah jalan Polonia yang berdurasi cukup lama. Di malam itu, sekitar pukul 11 malam, jendela mobilku diketok seorang anak kecil, dari pengamatanku, anak tersebut berusia antara 7-10 tahun. Katanya, “Bang beli koran, seribu rupiah saja bang, saya lapar..”. Koran “berita sore” yang disodorkan langsung disamping kaca jendelaku. Karena iba dan kasihan, secara spontan langsung membuka jendela mobilku. “Bang seribu perak saaajaaa banggg, saya lapar..” pintanya kedua kali. Dengan bagian wajah yang sepertinya terkena kotoran akibat pencampuran antara debu dan keringat; luka yang hampir di seluruh bagian tubuh dibiarkan begitu saja, belum lagi berat koran yang menurutku melebihi daya angkat seorang anak kecil.

Disamping sedih, juga senang, karena sadar bahwa perlunya mensyukuri apa yang sudah aku dapatkan, kedua orang tua yang mendidikku mulai sejak saya lahir, menasehati dan memarahiku disaat aku membuat kesalahan; seorang guru yang membimbing dan selalu mengarahkanku bagaimana menjadi seorang manusia yang lebih baik; sahabat yang selalu menjadi pendukung yang sempurna.

Berbanggalah karena hidup tidak perlu disesali, terima saja karunia yang sudah diberikan. Berbanggalah aku karena memiliki sepasang tangan yang diciptakan untuk belajar memberi.
Sepasang kaki yang diciptakan untuk maju, melangkah dan bergerak.
Mata untuk melihat kebenaran, mulut untuk menyemangati.
Otak untuk berpikir; mengimpan memori dan belajar sesuatu.
Dan hati untuk menerima siapa aku sebenarnya.
Semoga di kesempatan lain, aku bisa banyak mengerti
dan menghargai betapa besar berkat yang dapat aku terima pada saat aku memberi.

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: